Akhir – akhir ini viral diberitakan tentang tulisan seorang siswa SMA dalam akun facebooknya yang memiliki rasa empati yang cukup baik bagi perbedaan agama dan bangsa ini. Ia adalah Afi Nihaya Faradisa dengan tulisannya berjudul “Warisan”. Namun tulisan ini menuai berbagai pro kontra karna content yang berada dalam tulisan tersebut. Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lihat dari segi yang lain dan sudut pandang yang berbeda, mengenai beberapa kalimat yang ia tuliskan dalam laman facebooknya.
“Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak”
Memang benar tidak ada yang menjamin, hanya saja Allah telah memberikan kita akal untuk berfikir bukan? Jadi jika kita bisa berfikir tentang agama, tentu kita juga bisa berfikir bahkan mengambil tindakan untuk memilih agama itu sendiri. Kita bisa mencari tau mana yang benar dan mana yang tidak, mana yang pas buat kita dan tidak, mana yang benar – benar menjadi pilihan hati atau tidak. Lagi pula kita tidak dilarang untuk pindah agama secara hukum tertulis, meski dalam agama Islam tentu berbeda. Mereka yang pindah agama, tentu disebut sebagai seorang yang murtad.
“Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan”
Memilih tempat dimana kita dilahirkan atau setelah kita dilahirkan (saat kecil) memang kita tidak bisa memilih. Akal fikiran yang masih terbatas, kemampuan yang kurang dan takdir mungkin menjadi salah satu alasan yang paling mudah didapat. Tapi setelah kita beranjak dewasa, atau bahkan saat remaja tapi kita sudah cukup usia, cukup faham mana yang benar dan yang salah, cukup mampu untuk bertanggung jawab paling tidak terhadap diri sendiri, cukup mampu untuk mengambil sebuah keputusan, tak ada yang melarang kita untuk pindah tempat sesuai dengan keinginan kita masing – masing.
Perlu diingat bahwa jangan menggantungkan hidup kita pada orang lain, meski itu ke dua orang tua kita. Yang terpenting kan bukan memiliki sandaran atau penyokong seperti yang kita harapkan, tapi menjadi sandaran atau penyokong bagi orang lain itu sendirilah yang paling utama.
“Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan”
Warisan itu dalam istilah fara’id dinamakan tirkah (peninggalan) adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, baik berupa uang atau materi lainnya yang dibenarkan oleh syariat Islam untuk diwariskan kepada ahli warisnya. Jadi benarkah jika kewarganegaraan, nama dan agama itu adalah warisan?.
Kewarganegaraan itu didapat atas 2 asas kalau kita tengok lagi dalam pelajaran PKN. Pertama asas ius sanguinis (asas keturunan) yaitu kewarganegaraan yang mengikuti kedua orang tua dan kedua asas ius soli (asas kedaerahan) yaitu kewarganegaraan yang didapat berdasarkan tempat kelahirannya. Jadi apa benar kewarganegaraan itu adalah warisan?.
Nama adalah warisan? Menurut saya nama itu lebih berarti sebagai pemberian dan sebuah do’a dari orang tua terhadap anaknya. Namun jangan khawatir, di jaman sekarang jika kalian tak suka dengan nama pemberian itu kalian bisa merubahnya. Atau jika kalian tetap menganggap bahwa nama itu adalah sebuah warisan, maka tidak ada salahnya untuk menyedekahkannya atau merelakannya jika kalian mau.
Agama adalah Warisan? Steatment yang cukup crusial karna menyangkut agama. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lengkap perihal ini, karna pengetahuan saya yang kurang, hanya saja yang bisa saya sampaikan adalah agama hanyalah sebuah title atau gelar yang disematkan kepada seseorang sebagai sebuah penanda (Oh, si A itu agama Budha, kalau si C agama Hindu). Tapi jika kita melihat lebih jauh tentang sebuah agama tentu akan sangat berbeda, konten sebuah agama mencakup kepercayaan, keyakinan dan nilai – nilai yang dianut (jika si A agama Hindu, belum tentu pemikiran dan tingkah lakunya menganut ajaran hindu. Atau si C yang agama Islam belum tentu sesuai dengan ajaran agama Islam, bisa saja ia hanya Islam secara status tapi ia tidak solat, puasa atau berpakaian muslim seperti yang di ajarkan dalam agama Islam). Agama adalah sebuah pilihan yang bisa kita pilih sesuai apa yang menjadi keyakinan kita, kita bisa merubahnya tanpa terpaku agama yang sebelumnya atau sejak kecil di dapat yang biasanya hanya digunakan sebagai sebuah status.
Agama itu bukanlah warisan, kita dianjurkan untuk mencari sebuah kebenaran dalam agama yang kita anut. Salah satu fungsi diberikannya sebuah otak adalah untuk berfikir, mengolah mana yang baik dan tidak, yang benar atau yang salah, yang harus dipertahankan atau harusnya dilepaskan. Jika saat kita mencari tau sebuah kebenaran tentang salah satu agama dan menurut kita dirasa itu tidak benar, maka mengapa harus dipertahankan. Cari tau lagi agama yang lain hingga kita benar – benar merasa cocok dan yakin dengan agama tersebut. Jika kita sudah menemukan yang pas, mungkin agama itu berbeda saat kita masih kecil yang secara logika keilmuannya masih kurang mengapa kita harus tetap bersikeras menganut agama tersebut dan mengapa kita tidak berpindah agama saja sesuai dengan keyakinan kita. Toh yang akan mempertanggungjawabkan semua itu, baik di dunia tau diakhirat ya kita sendiri bukan orang tua ataupun saudara kita. Dan yang terpenting adalah, jangan hanya sekedar mempunyai sebuah agama, lalu memahami isi dan tujuan dan agama tersebut, namun tidak melaksanakan atau bersikap sesuai dengan apa yang diajarkan dalam agama tersebut layaknya orang cerdas yang tak mengamalkan ilmunya.
“Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara”
Karna sebagai seorang manusia sosial memang seharusnya seperti itu. Jangan berkawan hanya dengan melihat status ekonomi, sosial, agama, ras, suku, kebudayaan atau bangsanya.jangan membatasi pergaulan kita hanya karna perbedaan prinsip, karna berbeda itu wajar, karna kita tidak diciptakan sama, bahkan bayi yang lahir kembar identikpun masih tetap berbeda.
“Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka. Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agama nya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata”
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Alasan orang tua mengajarkan kita tentang sebuah agama , karna ia meyakini agama tersebut, ia lebih dulu mempelajarinya (mungkin), mengetahuinya dan menganggap agama tersebut adalah benar (Terlepas dari agama itu benar atau tidak menurut orang lain dan yang terpenting di hadapan Allah). Dan satu yang pasti adalah semua akan dipertanggung jawabkan nantinya. Itulah mengapa mereka mengajarkan agama yang mereka tau, mengarahkan anaknya untuk menuju jalan yang menurut mereka benar, meyakinkan dan memberi banyak petunjuk tentang sebuah agama agar kelak nantinya anaknya tidak salah arah dan mengikuti jalan yang menurut para orang tua itu benar (Fikirkan juga bahwa sebuah keyakinan seorang manusia itu bisa salah atau benar, seperti koin yang memiliki dua sisi).
Jadi jangan salahkan mereka yang mengajarkan kalian tentang sebuah agama yang dianutnya adalah satu-satunya yang paling benar, tapi salahkan diri kita sendiri yang hanya mau menerima agama yang mereka ajakan saja tanpa mau mempelajarinya lebih lanjut, seperti seorang bayi yang hanya memakan apapun dari suapan seorang ibu. Cari tahu kebenarnya, pelajari setiap agama jika kalian merasa perlu, jika menurut kalian agama yang kalian anut sekarang sudah benar maka apasalahnya mempertahankan.
Jika kalian mampu mengasihani orang lain karna sebuah agama, takut mereka masuk neraka. Lalu apa solusi kalian bagi meraka? Bukankah satu – satunya jalan adalah berbagi kebenaran yang kalian miliki dan yakini. Jika dua – duanya merasa benar, maka satu – satunya jalan adalah memberikan sebuah bukti nyata bagi mereka?. Cari tau dimana letak kebenaran dan kesalahan dalam sebuah agama itu, cari tau benang merah yang menghubungkan setiap ayat yang ada, dan jangan hanya melihat dari satu sisi saja, tapi lihatlah secara keseluruhan. Selalu ada titik temu meski terkadang rumit jalannya, yang mengatakan tak ada titik temu adalah mereka yang tak mau berfikir. (hal ini jugalah yang menjadi salah satu alasan mengapa seseorang mengajarkan sebuah kebaikan tentang agama mereka, karna berbagi itu sesuatu hal yang menyenangkan tersendiri bagi kita).
“Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agama nya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman". Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba”
Iman memang tidak membutuhkan pembuktian karna terkait individu itu sendiri, tapi kebenaran agama itulah yang membutuhkan pembuktian bagi sebagian orang sehingga mereka bisa merasa yakin tentang sebuah agama . Dalam konteks yang mana seseorang yang menyampaikan ayat – ayat tuhan akan bertindak layaknya menjadi tuhan? Dalam hal melabeli orang lain masuk surga dan neraka itu? Hei mereka hanya menyampaikan apa yang mereka tau, mereka hanya menyampaikan keuntungan dan hukuman yang didapat oleh seseorang dalam mengimani seuatu agama.
Jangan munafik saat kita menjadi manusia tidak ingin mendapatkan keuntungan untuk setiap hal yang kita lakukan, kita yakini bahkan kita imani. Kita boleh melakukan itu, dan itu tak dilarang. Itulah mengapa dalam sebuah kitab di setiap agama yang berisikan ayat – ayatNya mengungkapkan bahwa seseorang yang masuk dalam agama tersebut dan mengimani setiap syariatnya akan mendapat pahala dan bisa masuk surga sebagai reward atau hadiahnya, dan bagi orang yang tidak mengikuti anjuran dan agama nya tentulah akan masuk neraka sebagai punishment atau hukuman bagi mereka.
Referensi :
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=127042941197141&id=127040354530733&substory_index=0
- http://www.kemlu.go.id/manama/id/berita-agenda/info-penting/Pages/KEWARGANEGARAAN-REPUBLIK-INDONESIA.aspx
- http://www.alquran-sunnah.com/
Komentar
Posting Komentar